MANAJEMEN MEDIA

November 6, 2007

Manajemen media massa perlu ditingkatkan

Samarinda, Kompas – Belanja masyarakat Indonesia untuk media cetak saat ini masih sangat rendah. Data yang dimiliki Serikat Penerbit Surat Kabar menunjukkan, masyarakat Indonesia lebih banyak membelanjakan uang untuk membeli rokok dibandingkan membeli media cetak. Hal itu juga menunjukkan, pemasaran yang dilakukan perusahaan rokok jauh lebih berhasil dibandingkan dengan perusahaan media massa.

“Empat tahun lalu kami menemukan fakta, spending untuk surat kabar Rp 4,9 triliun per tahun. Spending untuk rokok Rp 150 triliun per tahun,” kata anggota Serikat Penerbit Surat Kabar Leo Batubara dalam Konvensi Nasional Media Massa di Samarinda, Kamis (8/2).

Konvensi digelar dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) yang akan digelar hari Jumat ini. Menurut rencana, peringatan HPN ini akan dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla.
http://mediacare.blogspot.com/2007/02/manajemen-media-massa-perlu.html

Media Komunikasi Massa Lokal
Oleh Agus Alfons Duka SVD

Dalam tiga kali lokakarya yang diselenggarakan oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI dengan para koordinator komunikasi keuskupan yang berlangsung di Batam pada 16-18 Juli 2007 (untuk wilayah Sumatera), Bali pada 21-23 Agustus 2007 (untuk wilayah Nusra, Jawa dan Kalimantan ) dan di Makassar pada 2-4 Oktober 2007 (untuk wilayah Papua, Sulawesi dan Maluku), sempat dibicarakan cukup panjang tentang bagaimana memanfaatkan media massa modern dalam karya pastoral dan misioner gereja.

Sebagai Areopagus jaman modern, semua orang katolik diimbau untuk tidak segan-segan menggunakan media massa modern sebagai sarana ampuh dalam karya kerasulannya. ( bdk Redemptoris Missio no 37; Pesan Paus Yohanes Paulus II pada Hari Komunikasi Sedunia yang ke-39 tahun 2005). Dari ketiga lokakarya itu tampak bahwa hampir semua keuskupan di Indonesia telah memiliki strategi komunikasi dan sarana komunikasi mulai dari cetak (buletin, majalah ), radio, studio audio, website disamping media komunitas lain baik yang bersifat budaya (tarian dan folk song, drama) maupun yang bersifat perjuangan (street teater, poster, dll). Namun kesulitan mulai muncul tatkala para peserta lokakarya menginventarisasi sejumlah rintangan dalam karya pastoral di bidang komunikasi. Biaya maintenance yang mahal, tenaga pengelola media yang terbatas dan kurang profesional, transportasi dan distribusi majalah yang terhambat oleh kurangnnya sarana transportasi, sulitnya medan geografis. Demikian juga infrastruktur lain seperti PLN yang tidak selalu stabil (mati-hidup) sehingga jam mengudaranya radio (on air) tidak lagi tergantung pada rencana jam tayang (prime time) tetapi pada jam beroperasinya PLN, jaringan telekomunikasi yang terputus-putus sehingga website tidak bisa di-update setiap waktu dengan akibat informasi dalam website terkesan basi, dll. Penggunaan media massa yang seharusnya memperingan beban kerja dan meningkatkan hasil kerja, dalam praktiknya justru menghambat dan membebankan kerja kita termasuk karya kerasulan gereja. Dan itu berarti beban biaya menjadi tinggi. Inilah yang disebut sebagai paradoksnya teknologi komunikasi.
http://mirifica.net/wmview.php?ArtID=4419

Apakah yang Anda maksud adalah: tentang+manajemen media

SiaR–>XPOS: MEMBONGKAR LKBN ANTARA Grup: soc.culture.indonesia Berita yang kemudian dikutip sejumlah media massa di Indonesia itu sumbernya
hanya para milisi yang berhasil melintasi perbatasan. Berita ini jelas tak
berdasar, dan hampir mustahil, pasukan Interfet melakukan tindakan seperti itu.
Propaganda lainnya, misalnya tentang tuduhan kecurangan yang dilakukan UNAMET, …
29 Des 1999 oleh INDONews Editors_1 pesan – 1 penulis
http://groups.google.co.id/groups?q=tentang%2Bmenejemen+media&hl=id&um=1&ie=UTF-8&sa=X&oi=groups&ct=title

UNIVERSITAS KRISTEN PETRA
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

AZAS-AZAS MANAJEMEN MEDIA MASSA

Back to Main Page

DESKRIPSI MATERI

NOVAK : IK 4229

Mata Kuliah : AZAS-AZAS MANAJEMEN MEDIA MASSA
Beban Kredit : 3 (tiga) SKS
Prasyarat :
Dosen :

Ruang Kerja : Gedung C-211. Telepon: Pesawat 1302
E-mail Address :

DESKRIPSI PERKULIAHAN

Manajemen pada dasarnya adalah proses perencanaan, pengorganisasian (termasuk penataan personil), pengarahan, dan pengendalian usaha manusia di tengah mendayagunakan sarana dan prasarana, demikian rupa sehingga tujuan organisasi itu dapat tercapai dengan efektif dan efisien. Mata ajaran ini dimaksudkan untuk mengajak mahasiswa mengkaji dari berbagai sudut pandang pengetahuan dan pengertian dasar mengenai kegiatan-kegiatan manajemen itu, mulai dari fungsinya yang pra-pelaksana (perencanaan) sampai ke fungsinya yang pasca-pelaksanaan (kontrol). Lewat mata ajaran ini para mahasiswa akan memahami bekerjanya mekanisme organisasi dalam usahanya mencapai tujuan.
http://communication.petra.ac.id/indonesia/kurikulum/SAPAZASMMM.htm

Manajemen Media Komunitas (Saran Dan Kritik Untuk Website Fisika)
by himafis-usk @ 06/09/05 – 16:32:56

Media komunitas?
Berbentuk seperti apakah yang disebut dengam sebuah “Media Komunitas” itu?

Banyak sekali bentuk-bentuk yang bisa diberikan untuk menjadi contoh sebuah media komunitas. Dapat saja berbentuk papan pengumuman, sebuah majalah dinding, brosur atau selebaran, jurnal, buletin kampus, atau hanya sebuah iklan saja.

[More:]

Untuk di internet sendiri, banyak yang dapat dilihat sebagai media komunitas. Sebuah room yang ada di layanan chat semisal mIRC, sebuah milis, sebuah website, homepage, dan … blog.

Lalu, apa itu media komunitas?

Media komunitas adalah sebuah media yang berbentuk tempat atau sekedar sebuah sarana bagi suatu komunitas. Kita ambil contoh layanan mailing-list yang terdapat di milis fisik-A-ceh, dimana milis ini diikuti oleh komunitas fisika FMIPA Unsyiah. Tipe seperti ini dapat dikatakan sebagai sebuah media komunitas.

Diciptakan dan ditumbuh-kembangkannya sebuah media komunitas, berangkat dari keinginan manusiawi untuk berkomunikasi. Adanya rutinitas hidup harian, tentu saja mengungari kesempatan untuk melakukan komunikasi secara langsung dengan sistem konvesional, katakan saja rapat atau sekedar berdialog dalam sebuah forum. Belum lagi jika dikaitkan dengan jarak.

Kita tentu bisa membayangkan kesulitan menciptakan komunikasi konvesional semacam ini, jika satu pihak berada di tempat yang jauh dan demikian juga dengan pihak yang lainnya.
http://himafis-usk.blog.co.uk/2005/06/09/manajemen_media_komunitas_saran_dan_krit

BROADCASTING

November 6, 2007

Membangun Stasiun Radio Internet
Bagi anda yang berscita-cita punya stasiun radio broadcasting tapi tak punya duit atau punya cita-cita jadi penyiar tapi nggak kesampaian, tidak usah khawatir karena dengan koneksi internet anda bisa membangun sendiri stasiun radio internet yang dapat dipancarkan ke seluruh dunia.
Ingin membangunnya? Silahkan ikuti prosedur berikut ini!
Untuk membangun radio internet anda dapat mengikuti 9 langkah berikut ini yang merupakan saran dari Mas Romi Satria Wahono dan telah saya coba dengan hasil sangat memuaskan:
1. Download software yang diperlukan:
• Shoutcast Server
• Winamp
• Shoutcast DSP Plugin
2. Install dan jalankan Shoutcast Server di komputer yang ingin kita jadikan server. Untuk instalasi di Linux cukup ekstrak file “shoutcast-1-9-5-linux- glibc6.tar.tar” dan jalankan file “sc_serv”. Tidak perlu menjadi root untuk menjalankannya.
3. Install Winamp dan Shoutcast DSP Plugin di komputer tempat kita akan mengalirkan content radio (mp3 music, dsb) ke Shoutcast Server.
4. Jalankan Winamp, kemudian klik kanan dan pilih “Options” -> “Preferences”.
5. Klik DSP/Effect di bagian Plug-ins dan pilih Nullsoft SHOUTcast Source DSP. Kemudian akan muncul satu window SHOUTcast Source dengan menu “Main”, “Output”, “Encoder”, “Input”.
6. Pilih “Output” dan klik “Connect” untuk konek ke Shoutcast server, sebelumnya perlu diperhatikan beberapa hal di bawah:
• Cek “Address” apakah sudah sesuai dengan server anda. Pilih “localhost” apabila anda install server di tempat anda menginstall Winamp dan DSP Plugin.
• Password default adalah “Changeme” (tanpa tanda kutip). Anda dapat mengubah setting password ini di “sc_serv.ini” atau “sc_serv.conf” yang terletak satu direktori dengan Shoutcast Server. (C:\Program Files\SHOUTcast\ untuk versi Windows)
7. Sekarang tinggal alirkan saja content (music, sound, dsb) ke Shoutcast Server. Caranya mudah, letakkan file mp3 di Winamp dan tekan tanda play, maka music anda akan terbroadcast ke seluruh dunia maya.
8. Cek dengan menjalankan Winamp dari komputer lain dan klik kanan pilih “Play” -> “URL” dan masukkan http://serveranda:8000. Ganti “serveranda” dengan nama domain atau IP address dimana Shoutcast server diinstal dan dijalankan.
9. Pertanyaan lain yang muncul, bagaimana kalau kita ingin mengalirkan suara kita secara live? Siapkan microphone dan masukkan kabel microphone ke soundcard PC anda. Kemudian kembali ke Winamp anda, pada SHOUTcast source, pilih “Input”, kemudian ubah “Input device” dari “Winamp (recommended)” ke “Soundcard Input”. Lalu siapkan microphone di depan mulut anda, dan ucapkan “Selamat datang di Radio Internet saya yang tercinta ini”.
Anda sudah memiliki Radio Internet sendiri sekarang. Sebagai informasi tambahan, untuk membangun Radio Internet kita juga bisa menggunakan software lain selain Shoutcast, diantaranya adalah: Unreal Media Server, SAM2 Broadcaster, Pirate Radio, Peercast, Icecast, Andromeda, dsb. Konsepnya tidak jauh berbeda dengan Shoutcast, jadi bekal anda dengan 9 tahapan diatas sudah cukup untuk membuat anda mahir membangun sendiri Radio Internet.
Sumber: muchlass.ee.uad.ac.id

kebijakan publik yang kian langka untuk kepentingan publik
ini adalah kompilasi tulisan tentang/untuk publik, terima kasih atas komentar Anda untuk perbaikan
Feed on Posts Comments
Archive for the ‘broadcasting’ Category
PP 38/2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan

Posted in broadcasting, economy, institutionalism, otonomi daerah, planning, public policy on Agt 1st, 2007 No Comments »

Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007
PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN ANTARA PEMERINTAH, PEMERINTAHAN DAERAH PROVINSI, DAN PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN/KOTA
Untuk mendapatkan file Peraturan Pemerintah, Penjelasan, dan Lampiran (PENTING MEMBACA LAMPIRAN SEPENUHNYA!) , kita harus mengunjungi situs resmi dari Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia. Langkah-langkahnya:
1. Silakan klik http://www.depdagri.go.id
2. Lihat kolom sebelah kiri, dan klik “Produk Hukum“
3. Pilih dalam kotak […]
http://ameliaday.wordpress.com/category/broadcasting/

Television Broadcast Standard

Lihat istilah tersebut pada istilah lain | Artikel | Buku
Kamus Terkait

Istilah Arti Keterangan
broadcast siar; siaran Edit
standard standar Edit
standard Standar, patokan, norma, ukuran. Berlaku secara umum. Edit
television televisi Edit

Penjabaran

Arti istilah Television Broadcast Standard dianggap berkaitan erat dengan pengertian berikut

Disingkat dengan TBS. Terdapat tiga standar utama dalam pengiriman sinyal analog televisi secara broadcast. Pertama adalah National Television Standards Committee (NTSC), yang merupakan standar broadcast di Canada, Jepang, dan Amerika. NTSC membagi 525 baris per frame, dan sebanyak 30 frame per detik. Baris disini dihitung dari atas sampai ke bawah. Frame per detik adalah jumlah gambar utuh yang ditayangkan dalam satu detik. Standar kedua adalah PAL (Phase Alternation Line), yang merupakan standar di Eropa, Timur Tengah, sebagian Afrika, dan bagian Amerika bagian selatan. PAL terdiri dari 625 baris dan ditayangkan sebanyak 25 frame dalam satu detik. Ketiga adalah SECAM, yang merupakan standat broadcast di Perancis, Rusia, dan sebagian wilayah Afrika. SECAM ini jenis lain dari PAL, tetapi mempunyai jumlah baris dan jumlah yang ditampilkan dalam satu detik sama dengan PAL.
http://ameliaday.wordpress.com/category/broadcasting/

FOR BROADCASTING DEVELOPMENT BESERTA PERUBAHANNYA

Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Nomor: 32 TAHUN 1989 (32/1989)

Tanggal: 28 JUNI 1989 (JAKARTA)

Kembali ke Daftar Isi

Tentang: PENGESAHAN AGREEMENT ESTABLISHING THE ASIA-PASIFIC INSTITUTE FOR BROADCASTING DEVELOPMENT BESERTA PERUBAHANNYA

Asia Pasific.

Presiden Republik Indonesia,

Menimbang:

a. bahwa kerjasama internasional di bidang sistem penyiaran radio dan televisi akan meningkatkan kemampuan sistem penyiaran radio dan televisi nasional yang berfungsi menyebarluaskan informasi, memajukan pendidikan dan memotivasi perubahan sosial;

b. bahwa di Kuala Lumpur, Malaysia, pada tanggal 12 Agustus 1977 telah diterima Agreement Establishing the Asia-Pacific Institute for Broad- casting Development sebagai hasil The Intergovernmental Meeting on the Asia-Pacific Institute for Broadcasting Development, yang bertujuan membantu meningkatkan kemampuan sistem penyiaran radio dan televisi di bidang pendidikan dan pengembangan bagi negaranegara di kawasan Asia-Pasifik;

c. bahwa pada tanggal 12 Agustus 1978 Pemerintah Republik Indonesia telah menandatangani Agreement tersebut;

d. bahwa Agreement tersebut pada tanggal 11 September 1986 sudah diubah sesuai dengan keputusan sidang ke-11 the Governing Council di New Delhi, India, dan Pemerintah Republik Indonesia menyetujui perubahan tersebut;

e. bahwa sehubungan dengan itu, dan sesuai dengan Amanat Presiden Republik Indonesia kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Nomor 2826/ HK/1960 tanggal 22 Agustus 1960, dipandang perlu untuk mengesahkan Agreement beserta perubahannya tersebut dengan Keputusan Presiden;
http://www.webiklan.com/peralatan-broadcast–studio,84159.htm

TV Broadcasting

Multimedia Broadcast berhubungan dengan media televisi yang terdiri dari perpaduan antara multimedia aplikasi komputer dengan alat-alat yang bernuansa broadcasting. Di Indonesia banyak hadir televisi swasta yang telah memunculkan program-program acara yang cukup menarik untuk dinikmati. Dari mulai acara News, Sinetron, Film laga, Komedi, Hingga berbagai macam tayangan kuis yang kesemuanya itu menggunakan alat broadcast televisi yang bagus untuk standar televisi.

Multimedia Broadcasting memadukan antara unsur pengambilan sebuah gambar dan permainan sebuah effect kamera yang terdapat pada setting menu serta jenis kamera dan sebuah effect software komputer yang dimainkan oleh seorang animator. Dari perpaduan kedua unsur tersebut dapat menghasilkan output tampilan yang sangat mengagumkan dan mempunyai nilai jual sangat tinggi di dunia broadcasting.
http://www.total.or.id/info.php?kk=broadcast

JURNALISTIK

November 6, 2007

Bahasa Jurnalistik sebagai Materi Pengajaran BIPA Tingkat Lanjut

Suroso
Universitas Negeri Yogyakarta

Bahasa jurnalistik atau biasa disebut dengan bahasa pers, merupakan salah satu ragam bahasa kreatif bahasa Indonesia di samping terdapat juga ragam bahasa akademik (ilmiah), ragam bahasa usaha (bisnis), ragam bahasa filosofik, dan ragam bahasa literer (sastra) (Sudaryanto, 1995). Dengan demikian bahasa jurnalistik memiliki kaidah-kaidah tersendiri yang membedakannya dengan ragam bahasa yang lain.
Bahasa jurnalistik merupakan bahasa yang digunakan oleh wartawan (jurnalis) dalam menulis karya-karya jurnalistik di media massa (Anwar, 1991). Dengan demikian, bahasa Indonesia pada karya-karya jurnalistiklah yang bisa dikategorikan sebagai bahasa jurnalistik atau bahasa pers.
Bahasa jurnalistik itu sendiri juga memiliki karakter yang berbeda-beda berdasarkan jenis tulisan apa yang akan terberitakan. Bahasa jurnalistik yang digunakan untuk menuliskan reportase investigasi tentu lebih cermat bila dibandingkan dengan bahasa yang digunakan dalam penulisan features. Bahkan bahasa jurnalistik pun sekarang sudah memiliki kaidah-kaidah khas seperti dalam penulisan jurnalisme perdamaian (McGoldrick dan Lynch, 2000). Bahasa jurnalistik yang digunakan untuk menulis berita utama—ada yang menyebut laporan utama, forum utama– akan berbeda dengan bahasa jurnalistik yang digunakan untuk menulis tajuk dan features. Dalam menulis banyak faktor yang dapat mempengaruhi karakteristik bahasa jurnalistik karena penentuan masalah, angle tulisan, pembagian tulisan, dan sumber (bahan tulisan). Namun demikian sesungguhnya bahasa jurnalistik tidak meninggalkan kaidah yang dimiliki oleh ragam bahasa Indonesia baku dalam hal pemakaian kosakata, struktur sintaksis dan wacana (Reah, 2000). Karena berbagai keterbatasan yang dimiliki surat kabar (ruang, waktu) maka bahasa jurnalistik memiliki sifat yang khas yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas dan menarik. Kosakata yang digunakan dalam bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan bahasa dalam masyarakat.
Sifat-sifat tersebut merupakan hal yang harus dipenuhi oleh ragam bahasa jurnalistik mengingat surat kabar dibaca oleh semua lapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuannya. Dengan kata lain bahasa jurnalistik dapat dipahami dalam ukuran intelektual minimal. Hal ini dikarenakan tidak setiap orang memiliki cukup waktu untuk membaca surat kabar. Oleh karena itu bahasa jurnalistik sangat mengutamakan kemampuan untuk menyampaikan semua informasi yang dibawa kepada pembaca secepatnya dengan mengutamakan daya komunikasinya.
Dengan perkembangan jumlah pers yang begitu pesat pasca pemerintahan Soeharto—lebih kurang ada 800 pelaku pers baru—bahasa pers juga menyesuaikan pasar. Artinya, pers sudah menjual wacana tertentu, pada golongan tertentu, dengan isu-isu yang khas.
http://www.ialf.edu/kipbipa/papers/Suroso.doc
google, 06/11/2007 10:40

Pengantar Ilmu Jurnalistik
26
04
2007

Oleh: Dian Amalia

1. Pengertian Jurnalistik
Definisi jurnalistik sangat banyak. Namun pada hakekatnya sama, para tokoh komuniikasi atau tokoh jurnalistik mendefinisikan berbeda-beda. Jurnalistik secara harfiah, jurnalistik (journalistic) artinya kewartawanan atau hal-ihwal pemberitaan. Kata dasarnya “jurnal” (journal), artinya laporan atau catatan, atau “jour” dalam bahasa Prancis yang berarti “hari” (day) atau “catatan harian” (diary). Dalam bahasa Belanda journalistiek artinya penyiaran catatan harian.

Istilah jurnalistik erat kaitannya dengan istilah pers dan komunikasi massa. Jurnalistik adalah seperangkat atau suatu alat madia massa. Pengertian jurnalistik dari berbagai literature dapat dikaji definisi jurnalistik yang jumlahnya begitu banyak. Namun jurnalistik mempunyai fungsi sebagai pengelolaan laporan harian yang menarik minat khalayak, mulai dari peliputan sampai penyebarannya kepada masyarakat mengenai apa saja yang terjadi di dunia. Apapun yang terjadi baik peristiwa factual (fact) atau pendapat seseorang (opini), untuk menjadi sebuah berita kepada khalayak.

Jurnalistik adalah suatu kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan atau pelaopran setiap hari. Jadi jurnalistik bukan pers, bukan media massa. Menurut kamus, jurnalistik diartikan sebagai kegiatan untuk menyiapkan, mengedit, dan menulis surat kabar, majalah, atau berkala lainnya.
http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/2007/04/26/pengantar-ilmu-jurnalistik/
6/11/2007 10:42

Tuesday, March 08, 2005
BAHASA JURNALISTIK INDONESIA

Oleh Goenawan Mohamad

PENGANTAR

Bahasa jurnalistik sewajarnya didasarkan atas kesadaran terbatasnya ruangan dan waktu. Salah satu sifat dasar jurnalisme menghendaki kemampuan komunikasi cepat dalam ruangan serta waktu yang relatif terbatas. Meski pers nasional yang menggunakan bahasa Indonesia sudah cukup lama usianya, sejak sebelum tahun 1928 (tahun Sumpah Pemuda), tapi masih terasa perlu sekarang kita menuju suatu bahasa jurnalistik Indonesia yang lebih efisien. Dengan efisien saya maksudkan lebih hemat dan lebih jelas. hemat dan jelas ini penting buat setiap reporter, dan lebih penting lagi buat editor. Di bawah ini diutarakan beberapa fasal, diharapkan bisa diterima para (calon) wartawan dalam usaha kita ke arah efisien penulisan.
Penghematan diarahkan ke penghematan ruangan dan waktu. Ini bisa dilakukan di dua lapisan: (1) unsur kata, dan (2) unsur kalimat.
http://hayamwuruk-online.blogspot.com/2005/03/bahasa-jurnalistik-indonesia.html

JURNALISME memiliki sejarah yang sangat panjang. Dalam situs ensiklopedia, http://www.questia.com tertulis, jurnalisme yang pertama kali tercatat adalah di masa kekaisaran Romawi kuno, ketika informasi harian dikirimkan dan dipasang di tempat-tempat publik untuk menginformasikan hal-hal yang berkaitan dengan isu negara dan berita lokal. Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai mengembangkan berbagai metode untuk memublikasikan berita atau informasi.
Pada awalnya, publikasi informasi itu hanya diciptakan untuk kalangan terbatas, terutama para pejabat pemerintah. Baru pada sekira abad 17-18 surat kabar dan majalah untuk publik diterbitkan untuk pertama kalinya di wilayah Eropa Barat, Inggris, dan Amerika Serikat. Surat kabar untuk umum ini sering mendapat tentangan dan sensor dari penguasa setempat. Iklim yang lebih baik untuk penerbitan surat kabar generasi pertama ini baru muncul pada pertengahan abad 18, ketika beberapa negara, semisal Swedia dan AS, mengesahkan undang-undang kebebasan pers.
Industri surat kabar mulai menunjukkan geliatnya yang luar biasa ketika budaya membaca di masyarakat semakin meluas. Terlebih ketika memasuki masa Revolusi Industri, di mana industri surat kabar diuntungkan dengan adanya mesin cetak tenaga uap, yang bisa menggenjot oplah untuk memenuhi permintaan publik akan berita.
Seiring dengan semakin majunya bisnis berita, pada pertengahan 1800-an mulai berkembang organisasi kantor berita yang berfungsi mengumpulkan berbagai berita dan tulisan untuk didistribusikan ke berbagai penerbit surat kabar dan majalah.
Kantor berita bisa meraih kepopuleran dalam waktu sangat cepat. Pasalnya, para pengusaha surat kabar dapat lebih menghemat pengeluarannya dengan berlangganan berita kepada kantor-kantor berita itu daripada harus membayar wartawan untuk pergi atau ditempatkan di berbagai wilayah. Kantor berita lawas yang masih beroperasi hingga hari ini antara lain Associated Press (AS), Reuters (Inggris), dan Agence-France Presse (Prancis).
Tahun 1800-an juga ditandai dengan munculnya istilah yellow journalisme (jurnalisme kuning), sebuah istilah untuk “pertempuran headline” antara dua koran besar di Kota New York. Satu dimiliki oleh Joseph Pulitzer dan satu lagi dimiliki oleh William Randolph Hearst.
Ciri khas jurnalisme kuning adalah pemberitaannya yang bombastis, sensasional, dan pemuatan judul utama yang menarik perhatian publik. Tujuannya hanya satu: meningkatkan penjualan!
Jurnalisme kuning tidak bertahan lama, seiring dengan munculnya kesadaran jurnalisme sebagai profesi.
Sebagai catatan, surat kabar generasi pertama di AS awalnya memang partisan, serta dengan mudah menyerang politisi dan presiden, tanpa pemberitaan yang objektif dan berimbang. Namun para wartawannya kemudian memiliki kesadaran bahwa berita yang mereka tulis untuk publik haruslah memiliki pertanggungjawaban sosial.
Kesadaran akan jurnalisme yang profesional mendorong para wartawan untuk membentuk organisasi profesi mereka sendiri. Organisasi profesi wartawan pertama kali didirikan di Inggris pada 1883, yang diikuti oleh wartawan di negara-negara lain pada masa berikutnya. Kursus-kursus jurnalisme pun mulai banyak diselenggarakan di berbagai universitas, yang kemudian melahirkan konsep-konsep seperti pemberitaan yang tidak bias dan dapat dipertanggungjawabkan, sebagai standar kualitas bagi jurnalisme profesional.
**
BAGAIMANA dengan di Indonesia? Tokoh pers nasional, Soebagijo Ilham Notodidjojo dalam bukunya “PWI di Arena Masa” (1998) menulis, Tirtohadisoerjo atau Raden Djokomono (1875-1918), pendiri mingguan Medan Priyayi yang sejak 1910 berkembang jadi harian, sebagai pemrakarsa pers nasional. Artinya, dialah yang pertama kali mendirikan penerbitan yang dimodali modal nasional dan pemimpinnya orang Indonesia.
Dalam perkembangan selanjutnya, pers Indonesia menjadi salah satu alat perjuangan kemerdekaan bangsa ini. Haryadi Suadi menyebutkan, salah satu fasilitas yang pertama kali direbut pada masa awal kemerdekaan adalah fasilitas percetakan milik perusahaan koran Jepang seperti Soeara Asia (Surabaya), Tjahaja (Bandung), dan Sinar Baroe (Semarang) (“PR”, 23 Agustus 2004).
Menurut Haryadi, kondisi pers Indonesia semakin menguat pada akhir 1945 dengan terbitnya beberapa koran yang mempropagandakan kemerdekaan Indonesia seperti, Soeara Merdeka (Bandung), Berita Indonesia (Jakarta), dan The Voice of Free Indonesia.
Seperti juga di belahan dunia lain, pers Indonesia diwarnai dengan aksi pembungkaman hingga pembredelan. Haryadi Suadi mencatat, pemberedelan pertama sejak kemerdekaan terjadi pada akhir 1940-an. Tercatat beberapa koran dari pihak Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang dianggap berhaluan kiri seperti Patriot, Buruh, dan Suara Ibu Kota dibredel pemerintah. Sebaliknya, pihak FDR membalas dengan membungkam koran Api Rakjat yang menyuarakan kepentingan Front Nasional. Sementara itu pihak militer pun telah memberedel Suara Rakjat dengan alasan terlalu banyak mengkritik pihaknya.
Jurnalisme kuning pun sempat mewarnai dunia pers Indonesia, terutama setelah Soeharto lengser dari kursi presiden. Judul dan berita yang bombastis mewarnai halaman-halaman muka koran-koran dan majalah-majalah baru. Namun tampaknya, jurnalisme kuning di Indonesia belum sepenuhnya pudar. Terbukti hingga saat ini masih ada koran-koran yang masih menyuguhkan pemberitaan sensasional semacam itu.
Teknologi dalam jurnalisme
Kegiatan jurnalisme terkait erat dengan perkembangan teknologi publikasi dan informasi. Pada masa antara tahun 1880-1900, terdapat berbagai kemajuan dalam publikasi jurnalistik. Yang paling menonjol adalah mulai digunakannya mesin cetak cepat, sehingga deadline penulisan berita bisa ditunda hingga malam hari dan mulai munculnya foto di surat kabar.
Pada 1893 untuk pertama kalinya surat-surat kabar di AS menggunakan tinta warna untuk komik dan beberapa bagian di koran edisi Minggu. Pada 1899 mulai digunakan teknologi merekam ke dalam pita, walaupun belum banyak digunakan oleh kalangan jurnalis saat itu.
Pada 1920-an, surat kabar dan majalah mendapatkan pesaing baru dalam pemberitaan, dengan maraknya radio berita. Namun demikian, media cetak tidak sampai kehilangan pembacanya, karena berita yang disiarkan radio lebih singkat dan sifatnya sekilas. Baru pada 1950-an perhatian masyarakat sedikit teralihkan dengan munculnya televisi.
Perkembangan teknologi komputer yang sangat pesat pada era 1970-1980 juga ikut mengubah cara dan proses produksi berita. Selain deadline bisa diundur sepanjang mungkin, proses cetak, copy cetak yang bisa dilakukan secara massif, perwajahan, hingga iklan, dan marketing mengalami perubahan sangat besar dengan penggunaan komputer di industri media massa.
Memasuki era 1990-an, penggunaan teknologi komputer tidak terbatas di ruang redaksi saja. Semakin canggihnya teknologi komputer notebook yang sudah dilengkapi modem dan teknologi wireless, serta akses pengiriman berita teks, foto, dan video melalui internet atau via satelit, telah memudahkan wartawan yang meliput di medan paling sulit sekalipun.
Selain itu, pada era ini juga muncul media jurnalistik multimedia. Perusahaan-perusahaan media raksasa sudah merambah berbagai segmen pasar dan pembaca berita. Tidak hanya bisnis media cetak, radio, dan televisi yang mereka jalankan, tapi juga dunia internet, dengan space iklan yang tak kalah luasnya.
Setiap pengusaha media dan kantor berita juga dituntut untuk juga memiliki media internet ini agar tidak kalah bersaing dan demi menyebarluaskan beritanya ke berbagai kalangan. Setiap media cetak atau elektronik ternama pasti memiliki situs berita di internet, yang updating datanya bisa dalam hitungan menit. Ada juga yang masih menyajikan edisi internetnya sama persis dengan edisi cetak.
Sedangkan pada tahun 2000-an muncul situs-situs pribadi yang juga memuat laporan jurnalistik pemiliknya. Istilah untuk situs pribadi ini adalah weblog dan sering disingkat menjadi blog saja.
Memang tidak semua blog berisikan laporan jurnalistik. Tapi banyak yang memang berisi laporan jurnalistik bermutu. Senior Editor Online Journalism Review, J.D Lasica pernah menulis bahwa blog merupakan salah satu bentuk jurnalisme dan bisa dijadikan sumber untuk berita.
Dalam penggunaan teknologi, Indonesia mungkin agak terlambat dibanding dengan media massa dari negara maju seperti AS, Prancis, dan Inggris. Tetapi untuk saat ini penggunaan teknologi di Indonesia –terutama untuk media televisi– sudah sangat maju. Lihat saja bagaimana Metro TV melakukan laporan live dari Banda Aceh, selang sehari setelah tsunami melanda wilayah itu. Padahal saat itu aliran listrik dan telefon belum tersambung.
Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com
16.30,11/4/2007

Bibit Jurnalis dari Blogger
July 31st, 2006 | | oleh : fian | kategori : Semarangan

Perjalanan Nasib Blogger di Semarang

Acara yang di support oleh KDW (Kelompok diskusi wartawan) dan Telkom dan Loenpia.net (Komunitas Blogger Semarang) yang terlaksana beberapa waktu lalu ini membahas tentang indahnya sebuah kreatifitas menulis yang tentu saja untuk melahirkan bibit-bibit jurnalisme profesional dari kota loenpia ini. Kegiatan ini diisi oleh perwakilan dari KDW yaitu ketuanya M. Saronji dan media Suara Merdeka, Ibu Sonya Helen Sinombor salah satu wartawan senior harian Kompas dan Loepia [dot] net yaitu Komunitas Blogger Semarang. Kegiatan ini di buka dengan sedikit gambaran tentang dunia jurnalistik oleh M. Saroji dimana seorang wartawan itu tidak boleh sembarangan, ada kode etik jurnalistiknya jadi tidak cuman liputan hingga dijadikan sebuah berita. Penulisan artikel yang baik dengan rumus 5W1H baca: lima we satu ha, yaitu What? (Apa), Who? (Siapa), Where? (Dimana), When? (Kapan ), Why? (Kenapa) dan How? (Bagaimana), rumus penulisan ini harus ada dalam tiap unsur penulisan yang baik, hal ini dijelaskan oleh Ibu Sonya Helen Sinombor. Dan penghujung acara diisi oleh Loenpia [dot] net yang mengenalkan media blog dan teknik pembuatan blog sekaligus etika para blogger seperti halnya dilarang meng-copypaste dalam hasil karyanya, pembuatan blog ini menggunakan mesin blogspot yang sudah akrab dalam dunia blog di internet.

Blog Your Mind, sebuah acara yang diharapkan melahirkan bibit profesionalisme dalam bidang penulisan ini digelar di gedung kopegtel lantai 3, ruko Pemuda Mas, jalan pemuda 150 blok A14 berlangsung sekitar lima jam dan ini sangat bermanfaat dan menyenangkan terutama acara intinya yaitu pelatihan pembuatan blog yang dibimbing seluruhnya oleh loenpia [dot] net dan diikuti oleh dari beberapa kalangan antara lain para wartawan, pondok pesantren, kalangan universitas dan umum.

Kegiatan ini diharapkan para masyarakat dunia nyata kenal dan akrab dengan salah satu kegiatan yang ada di dunia maya yaitu blog, sebab kegiatan di dunia maya seperti chatting dan browsing sudah melekat dan diketahui oleh masyarakat kita namun, blog, journal atau disebut juga diary online ini salah satu kegiatan positif yang di beberapa kota sudah banyak pemakainya namun di kota Semarang hal ini masih kurang diminati.

Diharapkan dari pelatihan ini dapat melahirkan blogger-blogger aktif dan sukses hingga mengikuti perkembangan dunia jurnalisme dan blog yang makin pesat. Maju Terus Blogger Semarang, Jangan Berhenti Berkreatifitas!!
http;/google.com,portal.cbn.net.id. 11/4/2007;16:45

PUBLIC RELATIONS

November 6, 2007

http://rumakom.wordpress.com/2007/09/27/salah-pengertian-tentang-public-relations/
Salah Pengertian Tentang Public Relations 27 September, 2007
Posted by mth in public relations.
trackback

Banyak orang beranggapan bahwa Public Relations merupakan bidang yang baru muncul sejak berakhirnya Perang Dunia II atau baru muncul sejak awal abad 20. Masalahnya Public Relations sudah ada sebelum Negara Amerika ada. Gagasan Public Relations sendiri bisa dikatakan sama tuanya dengan peradaban manusia.

Public Relations bukanlah usaha menciptakan suatu citra baru atau iklim pendapat umum yang menyenangkan atau mencoba memoles citra yang sudah ada. Definisi ini muncul ketika mencampuradukkan antara PR dengan pemasaran dan periklanan atau propaganda. PR merupakan pendekatan yang sangat strategis dengan menggunakan konsep-konsep komunikasi (Kasali, 2005:1).

Dalam prakteknya memang sering dijumpai salah pengertian tentang PR. Terkadang banyak orang sulit membedakan antara Public Relations dengan periklanan, pemasaran, promosi penjualan, propaganda dan publisitas. Secara umum, PR merupakan hal ihwal yang jauh lebih luas dari semua itu (periklanan, pemasaran, promosi penjualan, propaganda dan publisitas).

Sebagai ilmu pengetahuan, PR masih relatif baru bagi masyarakat bangsa kita. PR sendiri merupakan gabungan berbagai imu dan termasuk dalam jajaran ilmu-ilmu sosial seperti halnya ilmu politik, ekonomi, sejarah, psikologi, sosiologi, komunikasi dan lain-lain.

Dalam kurun waktu 100 tahun terakhir ini PR mengalami perkembangan yang sangat cepat. Namun perkembangan PR dalam setiap negara itu tak sama baik bentuk maupun kualitasnya. Proses perkembangan PR lebih banyak ditentukan oleh situasi masyarakat yang kompleks.

06/11/2007 9:55 Tentang public relation

Bagi sebagian orang, Public Relations Officer, Public Relations Specialist–yang biasa dikenal dengan nama PR, cenderung disamakan dengan profesi Hubungan Masyarakat (Humas). Well, anggapan ini memang tidak sepenuhnya keliru, walaupun tidak juga tepat sekali. Hal ini tergantung dari sudut pandang dan opini publik yang sudah terlanjur menancap di masyarakat, bahwa humas pada dasarnya “hanya” bertindak sebagai “tukang siar”, yang jalinan kerjanya biasanya erat berkaitan dengan media massa. PR, pada kenyataannya, lingkup kerjanya tidak hanya terbatas pada menjalin hubungan dengan media massa.

Berikut kami sajikan deskripsi kerja seorang PR, mudah-mudahan dapat memperbaiki anggapan-anggapan kurang tepat mengenai profesi yang sebenarnya sangat kompleks ini. Sengaja kami bagi artikel ini dalam 2 edisi, karena sesungguhnya cukup banyak seluk-beluk dunia kerja seorang PR yang cukup pantas untuk dicermati.

“Public Relations itu sangat luas artinya,” ujar sumber CyberJob, Siska Widyawati, yang pernah mengecap pengalaman 5 tahun sebagai seorang PR di sebuah agensi periklanan besar di Jakarta Pusat. Di sana (Amerika-Red), hampir di setiap perusahaan memiliki seorang PR, karena mereka sudah mengerti betul seluk beluk tugas seorang PR. Tapi di Indonesia, PR biasanya hanya dimaknai sebagai tenaga marketing, atau sebagai juru siar.

Tugas-tugas inti seorang PR

“Public relations bukan hanya seorang juru siar,” ujar Siska. Berikut Siska memaparkan beberapa job description PR yang disebutnya sebagai “nature of work”.

1. Reputasi, keberuntungan, bahkan eksistensi lanjutan dari sebuah perusahaan, dapat bergantung dari keberhasilan PR menafsirkan target publik untuk mendukung tujuan dan kebijakan dari perusahaan yang bersangkutan. Seorang PR specialiast menyajikan hal tersebut sebagaimana halnya seorang penasihat dalam bidang bisnis, asosiasi non-profit, universitas, rumah sakit dan organisasi lain. Selain itu, mereka juga membangun dan memelihara hubungan positif dengan publik.

2. Seorang PR mengurus fungsi-fungsi organisasi, seperti menghadapi media, komunitas dan konsumen. Dalam hubungannya dengan pemerintah, mereka mengurus kampanye politik, representasi para interest-group, sebagai conflict-mediation, atau mengurus hubungan antara perusahaan tempat mereka bekerja dengan para investor. Seorang PR tidak hanya berfungsi untuk “mengatakan sejarah organisasi”, tapi mereka juga dituntut untuk mengerti tingkah-laku dan memperhatikan konsumen, karyawan dan kelompok lain yang juga merupakan bagian dari deskripsi kerjanya. Untuk meningkatkan komunikasi, seorang PR juga membangun dan memelihara hubungan yang koperatif dengan wakil-wakil komunitas, konsumen, karyawan dan public interest group, juga dengan perwalian dari media cetak dan broadcast.

3. Seorang PR menyampaikan informasi pada publik, interest group, pemegang saham, mengenai kebijakan, aktivitas dan prestasi dari sebuah organisasi. Tugas tersebut juga berhubungan dengan mengupayakan pihak manajemen untuk supaya tetap sadar terhadap tingkah laku publik dan menaruh perhatian terhadap grup-grup dan organisasi, dengan siapa mereka biasa berhubungan.

4. Seorang PR menyiapkan pers rilis dan menghubungi orang-orang di media, yang sekiranya dapat menerbitkan atau menyiarkan material mereka. Banyak laporan khusus di radio atau televisi, berita di koran dan artikel di majalah, bermula dari meja seorang PR.

5. Seorang PR juga mengatur dan mengumpulkan program-program untuk memelihara dan mempertahankan kontak antara perwalian organisasi dan publik. Mereka mengatur speaking engagement, pidato untuk kepentingan sebuah perusahaan, membuat film, slide, atau presentasi visual lain dalam meeting dan merencanakan konvensi. Sebagai tambahan, mereka juga bertanggung jawab menyiapkan annual reports dan menulis proposal untuk proyek-proyek yang beragam.

6. Dalam pemerintahan, seorang PR–yang kemungkinan akan disebut sebagai “sekretaris pers”, “information officer”, “public affair specialist” atau “communications specialist”, bertugas menginformasikan pada publik mengenai aktivitas yang dilakukan agen-agen pemerintah dan pegawai-pegawai resminya.

7. PR yang berurusan dengan publisitas untuk individual, atau mereka yang menangani public relations untuk organisasi kecil, kemungkinan akan berurusan dengan semua aspek pekerjaan. Mereka akan menghubungi orang-orang, merencanakan dan melakukan penelitian dan menyiapkan material untuk distribusi. Mereka juga mengurusi pekerjaan advertising atau sales promotion untuk mendukung kegiatan marketing.

Sumber: cbn.net.id
06/11/2007 9:55

6/11/2007 10:29 tentang publik relation Media dan ”Public Relations” di Era Kompetisi
Oleh ELVINARO ARDIANTO
PERGESERAN paradigma media nasional menjadi media lokal (”community newspaper”) membuat surat kabar nasional ketar-ketir, sehingga mereka selain membuat surat kabar yang terbit lokal, juga membuat suplemen atau rubrik daerah agar tiras atau oplah media itu tetap bisa dijaga.
Berbagai sektor produk maupun jasa, termasuk industri media massa seperti surat kabar mengalami persaingan yang sangat ketat di era image kompetisi, berbagai upaya surat kabar dilakukan, salah satunya adalah membuat divisi public relations khusus, dengan nama marketing communication atau pun marketing public relations atau pun nama lainnya, ujung-ujungnya adalah untuk meraup image building (pembentukan citra), setelah itu melakukan kegiatan selling product (pemasaran).
Industri media sudah mulai menyadari pentingnya peran public relations (PR) dalam kegiatan marketing-nya, yang selama ini hanya mengandalkan strategi ilmu ekonomi (marketing), tetapi sekarang terjadi perkawinan antara ilmu ekonomi dengan ilmu komunikasi, sehingga muncul istilah atau kajian baru marketing communication atau marketing public pelations.
Dalam dunia perusahaan, seperti industri media, setidaknya ada dua divisi PR yaitu corporate public relations (CPR) dan marketing communication (MC) atau marketing public relations (MPR). CPR lebih beroreintasi terhadap pembentukan citra perusahaan, sedangkan MC atau MPR lebih berorientasi kepada pemasaran atau penjualan. Artinya CPR memelihara citra publik internal dan eksternal perusahaan di luar pembeli atau pelanggan, sedangkan MC atau MPR memelihara citra publik eksternal (khususnya pembeli atau pelanggan).
Memasuki era kompetisi ini pun, seorang pakar marketing Philip Kotler, mengakui pentingnya PR dalam dunia marketing, sehingga muncul konsep yang dibuatnya dengan nama mega marketing, yang terdiri dari product, price, place, promotion, power dan public relations. Menurut Kotler, aspek PR menjadi sangat penting dalam kegiatan marketing.
Memang marketing memasuki era yang harus lebih mengedepankan pentingnya pembentukan citra dan pemeliharaan reputasi di tengah persaingan media yang sangat ketat, sehingga “kesaktian fanatisme” pembaca yang selama ini dianut oleh media tersebut sudah harus mulai ditinggalkan, tetapi terus berupaya untuk merebut positioning perusahaan dengan kegiatan pencitraan dan pemeliharaan reputasi.
Berbicara tentang PR, para insan Humas akan menggelar Seminar Public Relations dan Musda Humas 2006 di Hotel Savoy Homann Bidakara, 13 September 2006, dengan menghadirkan keynote speaker Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan, Ketua Umum BPP Perhumas dan Direktur Umum Bank Indonesia Rusli Simanjuntak. Pembicara lainnya Ketua DPRD Jawa Barat, H.A.M. Ruslan, Budayawan Iwan Abdurachman, Direktur Pemasaran PT Pikiran Rakyat Januar P. Ruswita, Direktur PT Djarum Waska Warta.
Melalui tema seminar “Peran Strategis Manajemen Industri Public Relations di Era Kompetisi” mengupas tentang manajemen industri public relations dari perspektif sosial budaya, dan manajemen public relations dari perspektif bisnis (termasuk bisnis media).
Era kompetisi merupakan tantangan global yang harus dihadapi oleh para pelaku di berbagai sektor kehidupan, termasuk sektor media, sektor industri PR (pemerintahan, bisnis, dan organisasi nirlaba). Globalisasi pun telah menjadi kata yang terus menerus diperbincangkan oleh berbagai pihak, para pakar, praktisi maupun birokrasi dan kelompok masyarakat lainnya. Angin globalisasi berhembus melewati batas-batas negara, menerobos sampai pelosok desa, memicu timbulnya demokratisasi dan liberalisasi di mana-mana.
Sebagai negara yang berdaulat kita perlu mengkritisi arus globalisasi yang tetap menjadi bahan perdebatan. Perhumas melihat bahwa dampak globalisasi bagi Indonesia telah menjadi keniscayaan, dan kita harus siap menghadapi kompetisi yang semakin ketat di dalamnya.
Sebagai insan Humas, tentunya akan terus berupaya tentang bidang PR yang semakin diakui keberadaannya di masyarakat, baik itu perguruan tinggi, militer, perusahaan, yayasan, dan organisasi lainnya. Mengapa PR sangat diperlukan dalam era kompetisi ini, terdapat beberapa alasan para pakar PR antara lain: perusahaan semakin besar dan berkembang, (termasuk industri media), persaingan perusahaan semakin ketat, perkembangan teknologi komunikasi yang semnakin pesat (terutama munculnya era komunikasi online atau internet), masyarakat semakin kritis, haus informasi dan tidak ingin kepentingannya terganggu.
Public relations sebagai ilmu paling bontot dibanding ilmu lainnya seperti ekonomi, sipil, teknik, hukum dan ilmu lainnya yang terlebih dahulu eksis. Kini PR sebagai salah satu sub ilmu komunikasi mulai banyak dilirik dan dirasakan pentingnya PR dalam era kompetisi ini. Masyarakat sudah mulai banyak meminati bidang PR ini, sebagai contoh di sejumlah perguruan tinggi Jurusan Humas (PR) peminatnya cukup tinggi dibanding jurusan yang ada dalam satu rumpun komunikasi, malahan salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung, program studi komunikasi (ada PR di dalamnya) masuk dalam tiga besar program studi favorit calon mahasiswa dengan ekonomi dan kedokteran.
Kembali kepada pembahasan seminar public relations dan musda perhumas, tentunya seminar ini akan memberikan nuansa tersendiri dengan menghadirkan para pembicara yang sangat terkait dengan adanya era kompetisi. Para narasumber itu akan mengupas tentang PR di pemerintahan, PR di dunia legislatif, PR sosial budaya dan PR dari perspektif bisnis.
Memang masih banyak kendala tentang pentingnya peran PR saat ini, antara lain, banyak pimpinan yang belum satu bahasa tentang bidang ini, terutama belum menempatkan orang-orang yang profesional, malahan beberapa instansi masih menjadi jabatan buangan, secara struktur pun PR belum berada dalam pimpinan puncak, sehingga mempersulit PR untuk menjadi penerjemah kebijakan manajemen dan penyampaian aspirasi publik kepada pimpinan, kendala yang bersifat klasik belum memperoleh anggaran yang memadai untuk kegiatan PR, termasuk sarana dan prasarana PR dalam melayani kepentingan public masih memprihatinkan.
Memang untuk menghilangkan atau mengurangi kendala perlu adanya interaksi dan komunikasi atau duduk satu meja antara perguruan tinggi yang melahirkan SDM PR, masyarakat pengguna (industri media, industri jasa dan produk lainnya), masyarakat profesi (seperti Perhumas/Public Relations Association of Indonesia) agar dapat membuat standardisasi profesi PR yang saat ini tidak bias ditawar-tawar lagi sebagai profesi yang betul-betul diperlukan orang-orang profesional dengan standar yang jelas.
Dalam menjalani profesi PR, beberapa pakar mengemukan sedikitnya ada lima kualifikasi yaitu: (1) ability to communicate (kemampuan berkomunikasi), (2) ability to organize (kemampuan manajerial), (4) ability to get on with people (kemampuan membina relasi), (4) personality integrity (berkepribadian jujur dan professional), (5) imagination (banyak ide dan kreatif).
Seorang pejabat PR dituntut untuk memiliki kemampuan komunikasi lisan dan tulisan, seperti pidato, presentasi, wawancara pers, nara sumber forum seminar, menulis news release, menulis editorial di media house journal (perusahaan), menulis naskah pidato, dan kemampuan komunikasi lisan dan tulisan lainnya yang berkaitan dengan profesi PR.
Kemampuan manajerial diperlukan oleh seorang pejabat PR, seperti mengelola berbagai kegiatan PR special events, business meeting, konferensi pers, manajemen dan PR krisis, publisitas, serta kegiatan-kegiatan PR yang memerlukan keterampilan manajemen.
Kemampuan membina relasi sangat diperlukan oleh seorang pejabat PR, ia harus memiliki akses ke berbagai publik, dengan pengertian sehari-hari harus banyak bergaul, sehingga berbagai kegiatan PR yang memerlukan relasi tertentu akan mudah menguhubunginya dan dengan personal approach yang selama ini dijalin akan mempermudah melaksanakan kegiatan PR.
Berkepribadian utuh dan profesional mutlak diperlukan oleh seorang pejabat PR, karena ia harus menjadi sumber berita atau informasi yang layak dipercaya, sekali berbohong hancurlah citra dan reputasi dia sebagai PR, juga harus profesional baik sebagain penyandang profesi maupun sebagai pelayan komunikasi dan informasi bagi publik.
Persyaratan terakhir seorang pejabat PR harus memiliki banyak ide dan kreatif, terutama menghadapi berbagai permasalahan yang harus segera dicari pemecahannya, misalnya dalam mengatasi manajemen dan PR krisis, di sini dituntut banyak ide dan kreatif seorang pejabat PR untuk melakukan pemulihan citra akibat krisis tadi.
Mengakhiri tulisan ini, semoga para insan PR di Bandung dan di Jawa Barat ini dapat memilih ketua umum Perhumas BPC Bandung-Jawa Barat yang baru ini, bisa lebih mengedepankan peran Humas di era kompetisi dan membuat program-program yang sesuai dengan kebutuhan stakeholders-nya organisasi profesi Humas ini. Selamat berseminar dan bermusda, semoga sukses.***
Penulis, Pj. Ketua Perhumas BPC Bandung-Jawa Barat, dan Wakil Ketua Program Magister Public Relations (Pascasarjana Kelas Khusus) Fikom Unpad Bandung.

> SUPLEMEN

> IKLAN MINI BARIS
Hotel

Komputer

Lowongan Kerja

Mobil

Rumah

Sepeda Motor

Telepon

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com
6/11/2007 10:29
Informasi : Sejarah dan Perkembangan Public Relations
TGL AKSES TRKNIK SEARCHING HASIL
04/11/200715:40:45 tentang+PR Sejarah dan Perkembangan Public Relations 5 October, 2007
Posted by rumakom in public relations.
trackback

Humas kependekan dari hubungan masyarakat. Hal ini seringkali disederhanakan sebagai sebuah terjemahan dari istilah Public Relations (PR). Sebagai ilmu pengetahuan, PR masih relatif baru bagi masyarakat Indonesia. PR sendiri merupakan gabungan berbagai imu dan termasuk dalam jajaran ilmu-ilmu sosial seperti halnya ilmu politik, ekonomi, sejarah, psikologi, sosiologi, komunikasi dan lain-lain.

Dalam kurun waktu 100 tahun terakhir ini PR mengalami perkembangan yang sangat cepat. Namun perkembangan PR dalam setiap negara itu tak sama baik bentuk maupun kualitasnya.Proses perkembangan PR lebih banyak ditentukan oleh situasi masyarakat yang kompleks.

PR merupakan pendekatan yang sangat strategis dengan menggunakan konsep-konsep komunikasi (Kasali, 2005:1). Di masa mendatang PR diperkiraan akan mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Pemerintah AS mempekerjakan 9000 karyawan di bidang komunikasi yang ditempatkan di United States Information Agency.

Perkembangan Humas di Dunia
Dalam sejarahnya istilah Public Relations sebagai sebuah teknik menguat dengan adanya aktivitas yang dilakukan oleh pelopor Ivy Ledbetter Lee yang tahun 1906 berhasil menanggulangi kelumpuhan industri batu bara di Amerika Serikat dengan sukes. Atas upayanya ini ia diangkat menjadi The Father of Public Relations.
http://rumakom.wordpress.com/category/public-relations/
google 04/11/200715:40:45

Sejarah dan Perkembangan Public Relations 5 October, 2007
Posted by rumakom in public relations.
trackback

Humas kependekan dari hubungan masyarakat. Hal ini seringkali disederhanakan sebagai sebuah terjemahan dari istilah Public Relations (PR). Sebagai ilmu pengetahuan, PR masih relatif baru bagi masyarakat Indonesia. PR sendiri merupakan gabungan berbagai imu dan termasuk dalam jajaran ilmu-ilmu sosial seperti halnya ilmu politik, ekonomi, sejarah, psikologi, sosiologi, komunikasi dan lain-lain.

Dalam kurun waktu 100 tahun terakhir ini PR mengalami perkembangan yang sangat cepat. Namun perkembangan PR dalam setiap negara itu tak sama baik bentuk maupun kualitasnya.Proses perkembangan PR lebih banyak ditentukan oleh situasi masyarakat yang kompleks.

PR merupakan pendekatan yang sangat strategis dengan menggunakan konsep-konsep komunikasi (Kasali, 2005:1). Di masa mendatang PR diperkiraan akan mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Pemerintah AS mempekerjakan 9000 karyawan di bidang komunikasi yang ditempatkan di United States Information Agency.

Perkembangan Humas di Dunia
Dalam sejarahnya istilah Public Relations sebagai sebuah teknik menguat dengan adanya aktivitas yang dilakukan oleh pelopor Ivy Ledbetter Lee yang tahun 1906 berhasil menanggulangi kelumpuhan industri batu bara di Amerika Serikat dengan sukes. Atas upayanya ini ia diangkat menjadi The Father of Public Relations.
http://rumakom.wordpress.com/category/public-relations/
google 04/11/200715:40:45

6/11/2007 10:35 tentang publik relation Penulisan Naskah Public Relation

Persaingan yang semakin terbuka dan semakin kritisnya publik dalam menilai organisasi serta perkembangan teknologi informasi dan komunikasi berdampak terhadap kebutuhan informasi yang semakin meningkat. Perubahan yang terjadi dalam organisasi perlu dengan cepat disampaikan kepada berbagai publik. Upaya membangun dan memelihara hubungan dengan publik menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari.
Public relations bisa dipahami sebagai fungsi manajemen yang mengelola komunikasi dalam rangka menjembatani kepentingan organisasi dengan kepentingan beragam publik untuk mencapai tujuan pengertian bersama (mutual understanding), meningkatkan pemahaman, membangun ketertarikan, dan menumbuhkan simpati publik. Buku ini ditulis untuk mengembangkan keahlian profesional public relations, khususnya keahlian menulis. Jenis-jenis naskah tulisan yang biasa digunakan oleh praktisi untuk mengomunikasikan berbagai isu kepada beragam publik organisasi mencoba diulas secara detail. Contoh-contoh terbaru dari naskah public relations dilampirkan sebagai upaya untuk memberikan pemahaman yang komprehensif.

http://www.andipublisher.com/?buku-komputer=
google 6/11/2007 10:35

Hello world!

October 29, 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!